Sistem Islam Menjaga Kehormatan Guru

Bagikan Artikel ini

Dalam konteks sosial-politik, sistem pendidikan saat ini mencerminkan ideologi kapitalisme yang lebih menekankan pada kepentingan ekonomi dan hak individu

Oleh: Novi Ummu Mafa

WacanaMuslim-Guru memegang peranan vital dalam pembentukan karakter dan intelektual generasi muda. Namun, dalam sistem pendidikan kontemporer, peran guru mengalami hambatan signifikan akibat kebijakan dan persepsi sosial yang saling bertentangan. Salah satu contoh nyata dari dilema ini adalah kesalahpahaman publik terhadap tindakan disiplin guru, yang sering disalahartikan sebagai bentuk kekerasan terhadap anak. Seperti kasus yang terjadi pada Bu Supriyani guru honorer yang didakwa melakukan penganiyaan pada muridnya. (bbc.com, 01-11-2024). Situasi ini diperburuk dengan adanya Undang-Undang Perlindungan Anak, yang meskipun bertujuan untuk melindungi hak-hak anak, turut membuka celah untuk kriminalisasi terhadap guru yang berusaha mendidik siswa dengan cara tegas. Permasalahan ini mengindikasikan ketidaksesuaian antara sistem sosial dan harapan masyarakat terhadap guru, yang pada akhirnya menghambat tercapainya tujuan pendidikan secara utuh.

Dilema Sosial-Politik dalam Pendidikan

Dalam konteks sosial-politik, sistem pendidikan saat ini mencerminkan ideologi kapitalisme yang lebih menekankan pada kepentingan ekonomi dan hak individu. Kesenjangan pandangan mengenai tujuan pendidikan antara orang tua, guru, masyarakat, dan negara sering kali berujung pada konflik, di mana setiap pihak memiliki definisi tersendiri mengenai pendidikan yang ideal bagi anak-anak. Kondisi ini menyebabkan disintegrasi nilai dan tujuan pendidikan, menghambat sinergi yang seharusnya terjadi antara berbagai pemangku kepentingan dalam pendidikan. Akibatnya, upaya guru untuk menanamkan disiplin dan nilai moral pada siswa sering kali berbenturan dengan ekspektasi orang tua atau aturan yang tidak mendukung pembentukan karakter.

Kritik terhadap Sistem Demokrasi dalam Pendidikan

Sistem demokrasi sekuler, yang memberikan kebebasan berekspresi dan berpendapat tanpa batas, turut menyumbang pada permasalahan ini. Kebebasan berpendapat yang tidak diimbangi dengan batasan-batasan moral yang jelas menyebabkan setiap pihak merasa berhak menginterpretasikan peran guru dan pendidikan sesuai kepentingan mereka sendiri. Guru akhirnya ragu untuk menegakkan disiplin atau menyampaikan nilai-nilai moral karena khawatir akan reaksi negatif atau bahkan tuntutan hukum. Hal ini menimbulkan suasana pendidikan yang permisif, di mana otoritas guru melemah dan tujuan pendidikan yang seharusnya menekankan pembentukan karakter justru sulit tercapai.

Islam sebagai Solusi dalam Sistem Pendidikan

Dalam perspektif Islam, pendidikan memiliki landasan yang jelas dan berorientasi pada pembentukan akhlak serta peningkatan kualitas individu dalam koridor nilai-nilai yang mulia. Islam memandang guru sebagai figur yang harus dihormati dan didukung secara penuh dalam menjalankan peran mendidik generasi penerus. Islam memuliakan guru dan memberikan perlakuan yang baik terhadap mereka. Rasulullah SAW bersabda, “Bukan termasuk golonganku orang yang tidak menghormati orang yang lebih tua, tidak menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak orang yang berilmu.” (HR. Ahmad). Hadis ini menegaskan pentingnya penghormatan kepada guru dan orang yang berilmu, serta betapa besarnya kedudukan mereka dalam Islam.

Selain itu, negara dalam sistem Islam juga bertanggung jawab untuk menjamin kesejahteraan guru melalui sistem penggajian yang terbaik, sehingga guru dapat menjalankan amanahnya dengan baik tanpa beban finansial. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT juga memerintahkan untuk memuliakan mereka yang berilmu: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11). Ayat ini menekankan pentingnya peran orang yang berilmu dalam masyarakat, termasuk para guru yang mendidik generasi mendatang.

Pendekatan pendidikan Islam juga menekankan pentingnya pemahaman bersama di antara seluruh pihak yang terlibat dalam pendidikan, termasuk orang tua dan masyarakat. Negara diharapkan mampu memberikan pemahaman kepada semua pihak tentang prinsip-prinsip pendidikan Islam yang komprehensif. Pendidikan Islam memiliki tujuan yang jelas dan meniscayakan adanya sinergi antara guru, orang tua, masyarakat, dan negara, yang dapat menguatkan tercapainya tujuan pendidikan dalam Islam. Dengan kondisi ini, guru dapat menjalankan perannya dengan tenang dan optimal, terlindungi dalam mendidik siswanya serta didukung oleh seluruh elemen masyarakat.

Khatimah


Dilema yang dihadapi guru dalam sistem pendidikan saat ini menunjukkan adanya kebutuhan mendesak akan reformasi sistemik yang menempatkan kembali pendidikan pada landasan moral yang kuat. Pendekatan pendidikan berbasis nilai, seperti yang diajarkan dalam Islam memberikan solusi yang komprehensif untuk memperbaiki sistem pendidikan yang terfragmentasi oleh pengaruh kapitalisme dan demokrasi tanpa batas. Dengan dukungan negara, serta sinergi antara seluruh pemangku kepentingan, tujuan pendidikan yang sejati membentuk generasi berakhlak mulia dan berpengetahuan luas dapat tercapai.

Sumber Foto : Canva

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *