Apa yang dilakukan oleh Zionis pasca beberapa jam gencatan senjata dengan membunuh rakyat Palestina menunjukkan bahwa solusi hakiki hanyalah jihad dan Khilafah.
Oleh: Esnaini Sholikhah,S.Pd
(Penulis dan Pengamat Kebijakan Sosial)
WacanaMuslim-Pemerintah Israel mengklaim telah membebaskan 90 tahanan Palestina. Pejabat Israel mengatakan pembebasan itu merupakan bagian dari tahap pertama perjanjian gencatan senjata. Sebelumnya pada hari Minggu (19 Januari), tiga sandera Israel diserahkan oleh kelompok Hamas kepada Palang Merah di Kota Gaza. Ketiganya kemudian diserahkan kepada militer Israel. Peristiwa itu terjadi beberapa jam setelah gencatan senjata dimulai. Wanita yang dibebaskan Hamas adalah Doron Steinbrecher (31), Emily Damali (28, Inggris-Israel), dan Romi Gonen (24). Kamp Jabalia adalah lokasi operasi militer Israel yang terbesar dan paling berdarah selama perang, dulunya merupakan rumah bagi lebih dari 250.000 warga Palestina, Diperkirakan 4.000 warga Palestina telah terbunuh di daerah tersebut, menurut Kementerian Kesehatan yang dikelola Hamas. Hussein Aouda pun kembali ke Jabalia. Atlet angkat besi profesional, yang mewakili Palestina secara internasional, kehilangan 10 anggota keluarganya ketika perang dimulai. “Hal terbaik yang terjadi hari ini adalah untuk pertama kalinya dalam 100 hari saya dapat mengunjungi makam keluarga saya dan berdoa,” katanya. (CNN Indonesia, 20-1-2025)
Kabinet keamanan Israel sudah merekomendasikan persetujuan gencatan senjata pada Gaza & perjanjian pengembalian sandera, menjelang kedap kabinet sempurna yang dijadwalkan dalam Jumat (17/1/2025) malam. Hasil kedap itu diumumkan di tempat kerja Perdana Menteri Israel pada sebuah pernyataan. “Menunggu persetujuan menurut Kabinet Keamanan dan pemerintah, akhirnya perjanjian mulai berlaku, pembebasan sandera akan dilaksanakan sinkron menggunakan kerangka yang direncanakan dimana para sandera diperkirakan akan dibebaskan pada Minggu (19/1),” istilah pada sebuah pernyataan sebagaimana dilansir voaindonesia.com. Presiden Israel, Isaac Herzog, menyambut baik persetujuan gencatan senjata menurut Kabinet Keamanan dan berkata dia mengharapkan semua Kabinet “akan segera melakukan tindakan yg menegaskan keputusan ini.” (Tirto.id, 20-1-2025)
Indonesia mengapresiasi tercapainya konvensi gencatan senjata antara Hamas & Israel, yang diharapakan akan segera dilaksanakan secara komprehensif. Meskipun demikian sebagian ahli ragu hal itu akan terwujud maksimal. Hamas dan Israel mencapai konvensi gencatan senjata Gaza dalam Rabu malam (15/1), yang berdasarkan tim perantara berdasarkan pihak Qatar, Mesir & Amerika akan mulai berlaku dalam hari Minggu (19/1). Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono melalui X, Kamis (16/1), berkata langkah krusial yang wajib dilakukan pasca konvensi gencatan senjata antara Hamas dan Israel merupakan memastikan perjanjian ini dilaksanakan segera dan secara komprehensif, buat mencegah jatuhnya korban lebih banyak. Kekejaman Israel pada Palestina sudah memakan korban puluhan ribu nyawa rakyat Palestina, tambahnya. (VOAIndonesia, 17-1-2025)
BACA JUGA : Palestina Butuh Bantuan Nyata Bukan Retorika
Gencatan senjata bukan karena tekanan Trump kepada Netanyahu, namun karena Zionis tidak sanggup mematahkan rakyat Gaza. Tuntutan ini mengecewakan Amerika dan kaum Yahudi. Karena mereka tidak dapat membujuk Hamas untuk menyetujui gencatan senjata. Dan Perdana Menteri Netanyahu mengancam lagi, mengatakan Israel akan melanjutkan serangannya terhadap kota Hams dan Rafah di Jalur Gaza selatan, meskipun tekanan internasional meningkat. Keteguhan rakyat Gaza meski menderita kelaparan, dibunuh, banyak pemimpin pejuang syahid, mereka tetap teguh dan mereka tetap mempertahankan tanahnya dan telah menggentarkan Zionis.
Gencatan senjata tak akan mengubah apapun. Apa yang dilakukan oleh Zionis pasca beberapa jam gencatan senjata dengan membunuh rakyat Palestina menunjukkan bahwa solusi hakiki hanyalah jihad dan Khilafah. Satu-satunya hal yang bisa membebaskan bangsa Palestina pada Gaza atau menghentikan perang merupakan adanya negara yang menggerakkan tentaranya, ataupun keyakinan Yahudi & AS bahwa hal itu akan segera terjadi, sebagaimana tergambar dalam pemasangan gerbang besi sang orang-orang Yahudi pada pintu masuk Masjidil Aqsa. Netanyahu tidak akan pernah mundur sampai rasa takut ada pada hadapannya, dan hal itu telah sangat dekat. Adapun berharap dalam perselisihan disparitas AS-Yahudi atau perselisihan antar-Yahudi pada negeri, merupakan omong kosong yang tidak berpengaruh dalam jalannya perang, pembunuhan, dan pula kejahatan. Hal yang sama pula berlaku bagi komunitas internasional dan tekanan internasional. Dramatisasi perselisihan ini tidak lain hanyalah sebuah penipuan yang dilakukan beberapa politisi dan tokoh media untuk menghabiskan kesempatan penuh pada orang-orang Yahudi dan AS guna melaksanakan planning mereka sampai langkah terakhir. Ini lantaran sejatinya, AS, Biden, Yahudi, dan Netanyahu mempunyai keputusan bulat buat menghancurkan Gaza, membunuh mujahidin dan menghentikan perlawanan yang ada.
BACA JUGA : Jihad dan Khilafah: Solusi Palestina
Perbedaan pendapat antar mereka hanya ada dalam beberapa keputusan, lebih jelasnya untuk mempertimbangkan opini publik dunia atau internal AS dan entitas Yahudi. Meskipun terdapat disparitas pendapat diantara mereka tentang ketika perang berikutnya, namun keputusan mereka tentang perang, urgensinya, dan urgensi kemenangan entitas Yahudi, khususnya kemenangan yang menghancurkan tubuh anak-anak, perempuan, dan reruntuhan Gaza. Hal ini terjadi pula dalam internal entitas Yahudi. Meskipun mereka berselisih, namun seluruh keputusan bulat mereka tentang urgensi perang, dan kemenangan melawan Gaza, perlawanan mereka dan kesiapan untuk melakukan pengorbanan yang menyakitkan. Perselisihan media yang ada diantara mereka pun bertujuan untuk mencapai tujuan tersebut. Contohnya sehari sehabis perang, ada fakta tentang eksklusif Netanyahu, Lapid, Gantz, dan Gallant, pula output pemilu, dan siapa yang akan kalah dan menang pada kabinet berikutnya. Namun, berlanjutnya kegiatan perang, menghilangkan perlawanan, dan menghancurkan Gaza merupakan masalah yang sebagai mufakat diantara seluruh partai Yahudi dan rakyat Yahudi. Upaya buat mendramatisasi perselisihan dan menjadikannya hingga dalam taraf yang bisa menghentikan perang merupakan sebuah ilusi, penipuan, dan buang-buang waktu, ketika mereka bisa mencapai apa yg diinginkan. Hal yang sama pula berlaku dalam apa yang dianggap menjadi komunitas dan tekanan internasional, pada mana beliau hanyalah seikat ranting dan letupan-letupan yang terkadang sedikit mengganggu Yahudi. Namun, para pemimpin Yahudi memahami bahwasanya komunitas internasional akan bertindak dan akan permanen diam. Mereka akan permanen kondusif berdasarkan tindakan internasional dan berdasarkan segala keributan selama lampu hijau dan proteksi Amerika permanen tegak. Gaza dan penduduknya, Palestina dan Aqsanya tidak mempunyai apa pun, kecuali umat Islam, tentara kaum muslim, dan para perwira dan komandan pasukan negara-negara muslim yang tulus. Apabila mereka seluruh atau sebagiannya bertindak, kekufuran dan pengikutnya sudah menetapkan masalah dan memilih keputusan jahatnya. Jiwa kesatria, Ramadan, dan Islam selayaknya bisa memotivasi umat Islam dan para perwira dan tentaranya buat menolong saudara-saudara dan Masjidil Aqsa.
Umat harus menyakini kemenangan adalah milik umat Islam dan pujian hanya milik Allah. Kemenangan akan datang atas pertolongan Allah. Oleh karena itu jalan perjuangan wajib sesuai tuntunan Allah, tidak menyerahkan urusan pada musuh-musuh Allah. Umat harus terus berjuang untuk mewujudkan solusi hakiki,yaitu dengan jihad dan khilafah. Dan itu semuanya takkan terwujud tanpa adanya persatuan umat islam. Wallahu a’lam bisshowab.[] Sumber Foto : Canva

