Pilar Penjaga Hancur, Pornografi Anak Makin Subur

Bagikan Artikel ini

Di tengah kemajuan teknologi yang seharusnya mendatangkan manfaat, kenyataannya malah dimanfaatkan oleh oknum tak bertanggung jawab untuk menyebarkan keburukan.


Poppy Kamelia P. BA(Psych), CBPNLP, CCHS, CCLS, CTRS.
(Pelatih Parenting Islam, Konselor dan Terapis Kesehatan Mental, Penulis, Pegiat Dakwah)

WacanaMuslim-Di tengah maraknya berita tentang penangkapan pelaku pornografi anak di Indonesia, hati kita sebagai bangsa yang seharusnya menjunjung tinggi nilai moral, tak bisa lagi menahan perasaan prihatin yang begitu mendalam.

Penangkapan 58 tersangka dalam enam bulan dan pemblokiran ribuan situs pornografi anak menunjukkan betapa parahnya masalah ini merusak masyarakat kita. Wakil Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Kombes Dani Kustoni, mengungkapkan bahwa selain menangkap pelaku, pihaknya juga telah memblokir lebih dari 15.000 situs pornografi online. (Sindonews.com, 13-11-2024)

Namun, lebih dari sekadar angka dan tindakan hukum, ini adalah tanda bahwa pilar penjaga moral bangsa, yang seharusnya melindungi dan membentuk karakter generasi muda, kini semakin rapuh dan mulai hancur.

Mari sejenak kita merenung, apa yang terjadi pada bangsa ini? Mengapa kita terus mendengar cerita tentang eksploitasi anak yang semakin subur? Seorang anak, yang seharusnya menikmati masa kecilnya dengan penuh keceriaan dan kebahagiaan, kini terjebak dalam dunia gelap yang merusak jiwa dan raganya.

Baca Juga : https://wacanamuslim.web.id/predator-anak-marak-di-mana-perlindungan-negara/

Mereka menjadi objek dari keinginan-keinginan bejat yang seharusnya tidak pernah mereka ketahui. Dalam konteks ini, pornografi anak bukan hanya sekadar masalah hukum, tetapi juga peringatan keras bagi kita semua, bahwa dunia yang kita ciptakan untuk anak-anak kita tidak lagi aman. Sistem yang ada tidak cukup untuk melindungi mereka dari ancaman besar ini.

Lemahnya sistem moral dan hukum menjadi akar masalah yang harus kita hadapi bersama. Di tengah kemajuan teknologi yang seharusnya membawa manfaat, kenyataannya malah dimanfaatkan oleh oknum tak bertanggung jawab untuk menyebarkan keburukan. Aplikasi sosial yang seharusnya menghubungkan, kini justru menjadi saluran untuk merusak masa depan anak-anak kita.

Ini adalah kegagalan besar sistem sekular kapitalis yang mengutamakan kebebasan tanpa batas, mengorbankan moralitas kita. Terlalu fokus pada keuntungan materi, kita membiarkan media, terutama digital, merusak anak-anak dengan konten berbahaya, tanpa memikirkan masa depan mereka yang semakin terancam.

Bukan hanya sistem yang lemah, tetapi kita sebagai masyarakat juga harus bertanggung jawab. Ketika nilai agama dan moral terpinggirkan, kita memberi ruang bagi perilaku buruk berkembang. Keimanan bangsa ini seakan terlupakan, sementara generasi muda lebih fokus pada teknologi dan gaya hidup luar, tanpa pondasi akidah yang kokoh.

Akibatnya, dunia anak-anak kita semakin terancam, bukan hanya dari tindakan eksploitasi, tetapi juga dari potret masyarakat yang kehilangan arah. Mereka tumbuh dalam dunia yang tidak lagi menghargai nilai kesucian dan kehormatan manusia.

Islam, sebagai agama yang mengajarkan tentang keseimbangan antara dunia dan akhirat, memiliki solusi yang sangat jelas dan tegas untuk mencegah kerusakan ini. Dalam sistem Islam, pendidikan tidak hanya mengajarkan pengetahuan duniawi, tetapi juga membentuk akidah dan karakter yang kokoh berdasarkan prinsip-prinsip agama.

Salah satu pilar utama dalam Islam adalah menjaga akal dan jiwa dari segala bentuk kerusakan, termasuk paparan konten-konten negatif yang merusak moralitas. Islam mengajarkan untuk menutup aurat, baik bagi laki-laki maupun perempuan, sebagai salah satu cara untuk menjaga kemurnian akal dan jiwa. Dalam perspektif ini, pornografi dianggap sebagai penyakit sosial yang merusak kehormatan manusia dan bertentangan dengan syariat Islam.

Lebih jauh lagi, sistem Islam juga mengatur interaksi antara laki-laki dan perempuan dengan prinsip-prinsip yang menekankan rasa saling menghormati dan menjaga kehormatan. Islam melarang segala bentuk tindakan yang dapat menimbulkan fitnah, termasuk dalam hal ini adalah pemaparan terhadap konten-konten porno yang merusak akal sehat dan perilaku manusia.

Dengan menerapkan sistem pendidikan yang berbasis akidah Islam, generasi muda akan diajarkan untuk tidak hanya mengenal ilmu pengetahuan, tetapi juga memahami bagaimana cara menjaga diri dari pengaruh-pengaruh negatif yang ada di sekitar mereka.

Di sinilah pentingnya penerapan sistem Khilafah yang dapat memberikan perlindungan terhadap generasi dari konten-konten yang merusak. Dalam sistem Khilafah, ada pengaturan yang jelas mengenai pengawasan media, termasuk media digital. Pemerintah yang berlandaskan pada prinsip-prinsip syariat Islam akan melakukan tindakan tegas untuk memblokir segala bentuk konten yang tidak sesuai dengan nilai-nilai moral Islam.

Selain itu, sistem Khilafah juga akan menegakkan hukum yang lebih adil dan tegas terhadap para pelaku penyebar pornografi anak, serta memberikan perlindungan yang maksimal bagi anak-anak dari eksploitasi digital yang merusak.

Sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim, sudah saatnya kita berfikir untuk kembali kepada sistem yang dapat menjaga keutuhan moral dan akidah bangsa. Bukan hanya dengan penegakan hukum semata, tetapi juga dengan merombak sistem pendidikan yang ada, agar mampu membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh dalam akidah dan moralitas.

Dengan demikian, kita tidak hanya berharap pada penegakan hukum yang reaktif, tetapi juga menciptakan lingkungan yang preventif melalui pendidikan berbasis akidah Islam yang akan menguatkan keimanan dan menutup rapat akses terhadap konten-konten pornografi yang merusak.
Melalui penerapan sistem yang benar dan pendidikan yang berakar pada nilai-nilai agama, kita akan mampu mewujudkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkepribadian mulia, yang pada gilirannya akan mewujudkan rahmatan lil alamin—rahmat bagi alam semesta dan seluruh umat manusia.

Inilah jalan keluar yang dapat membawa kita menuju peradaban yang lebih baik, yang tidak hanya berfokus pada kemajuan material, tetapi juga pada kesejahteraan spiritual dan moral bangsa.
Wallahu A’lam Bisshawaab[]

Sumber Foto : Canva

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *